BerandaBeritaIdul Adha, Momentum Memperkuat Keikhlasan dan Solidaritas di Tengah Tantangan Ekonomi

Idul Adha, Momentum Memperkuat Keikhlasan dan Solidaritas di Tengah Tantangan Ekonomi

Berita
2026-05-26
0 menit membaca
Idul Adha, Momentum Memperkuat Keikhlasan dan Solidaritas di Tengah Tantangan Ekonomi

Umat Muslim di seluruh dunia tengah mempersiapkan berbagai hal dalam menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Namun di balik itu semua, ada yang menarik, terutama kondisi ekonomi masyarakat yang tengah menghadapi berbagai tantangan.

Di berbagai sektor, efisiensi anggaran dan penghematan masih berlangsung. Dasar itulah memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana situasi ekonomi dapat memengaruhi pelaksanaan ibadah kurban di tengah situasi ekonomi saat ini. Sebab ibadah kurban ini identik dengan pembiayaan yang tidak sedikit.

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Prof Arifuddin Ahmad, menilai pelaksanaan ibadah kurban memiliki karakter yang berbeda dengan aktivitas sosial atau kegiatan lainnya.

Menurutnya, terdapat perbedaan motivasi antara seseorang yang menjalankan aktivitas umum dengan ketika seseorang melaksanakan ibadah.

"Kalau saya sih sebetulnya ada perbedaan motivasi ketika seseorang melakukan sebuah ibadah dengan ketika melakukan, misalnya ibadah mahdhah ketika melakukan soal ibadah muamalah. Jadi ada orang memang lebih perhatian terhadap kegiatan-kegiatan atau aktivitas di luar ibadah," ujar Prof Arifuddin, saat diwawancara, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, dalam konteks masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat muslim di Sulawesi Selatan, perhatian terhadap ibadah yang memiliki dimensi spiritual dan simbolik masih sangat tinggi.

Ia menilai bahwa meskipun saat ini terdapat berbagai kebijakan penghematan ekonomi, pelaksanaan ibadah kurban tidak terlalu mengalami perubahan yang signifikan.

"Tetapi sebagai bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, khusus lagi Sulawesi Selatan, saya kira ibadah mahdhah terutama berkaitan dengan pembiayaan dan simbolik, biasanya masyarakat Sulawesi Selatan itu tidak terlalu terpengaruh dengan tahun penghematan," kata dia.

Prof Arifuddin mengaku melihat kondisi tersebut secara langsung dari lingkungan masjid tempat tinggalnya. Menurutnya, jumlah hewan kurban yang disiapkan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok.

"Paling tidak saya lihat di masjid saya, kalau dibandingkan 2-3 tahun terakhir ini itu tidak bergeser, meskipun kompleks tidak terlalu banyak, tapi itu tetap saja saya lihat antara 18-20 ekor, itu tidak mempengaruhi," ungkapnya.

Ia menilai salah satu alasan mengapa ibadah kurban tetap berjalan secara stabil karena banyak masyarakat yang telah mempersiapkannya sejak jauh hari.

"Kenapa karena pertama kesadaran misalnya berkurban hari ini itu banyak yang memang sudah melakukan juga perencanaan dari awal, misalnya menabung khusus untuk kurban, jadi dari sisi itu saya lihat itu tidak terlalu terpengaruh," lanjutnya.

Menurut Prof Arifuddin, penghematan yang berlangsung saat ini lebih banyak menyasar kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial atau pengeluaran tertentu yang tidak bersifat mendasar.

"Apalagi saya lihat penghematan kan pada umumnya hanya pada transportasi dan kegiatan-kegiatan yang selama ini yang mungkin sifatnya kegiatan yang ceremonialnya itu, daripada substansi kegiatan, itu kalau dari sisi kesulitan, tapi saya melihat beberapa Masjid itu tidak terpengaruh dengan itu," ujar Prof Arifuddin.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ibadah seperti kurban maupun haji memiliki makna yang tidak sekadar soal biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat, tetapi juga mengandung simbol spiritual yang kuat.

"Karena dia ibadah mahdhah yang bersifat simbolik dan pembiayaan. Sama dengan haji, betapapun itu (biayanya) tetap saja banyak yang ngantri, karena dari situ ada ibadah simbolik dan pembiayaan," katanya.

Prof Arifuddin juga menjelaskan bahwa Idul Adha tidak hanya dipahami sebatas penyembelihan hewan kurban semata. Akan tetapi di dalamnya terdapat makna spiritual dan sosial yang saling berkaitan.

Menurutnya, setiap ibadah yang dilakukan umat Islam selalu memiliki dua dimensi utama yang tidak dapat dipisahkan.

"Pertama sebetulnya di ibadah kurban khususnya di Idul Adha ini, itu kan pertama setiap amal ibadah yang kita lakukan selalu dimensi ilahiyah dan dimensi insaniah, dimensi spiritualitas dalam kedudukan sebagai abdillah dan dimensi sosial, amal shaleh dalam kaitan kita sebagai khalifatullah mustamir fil ardh," jelasnya.

Baca Juga:

Kejari Enrekang dan Forkopimda Sidak Pasar, Pastikan Harga dan Stok Bahan Pokok Aman Jelang Iduladha

Ia menyebut bahwa dimensi spiritual tersebut menjadi bentuk kepatuhan manusia kepada Allah SWT. Dalam konteks Idul Adha, hal itu disebut dapat dilihat dari kisah keluarga Nabi Ibrahim yang hingga kini terus menjadi pelajaran bagi umat Islam.

"Kalau misalnya kita kembali pada salah satu episode terkait dengan kurban ini adalah kisah keluarga Nabi Ibrahim yang dimana disitu banyak sekali sebutnya nilai-nilai spiritualitas antara lain bahwa untuk perintah Allah itu samina wa athona, artinya kita harus yakin melaksanakan," tuturnya.

Baca Juga:

Iduladha di Tengah Tekanan Ekonomi, Tradisi Kurban Beradaptasi di Era Ketidakpastian

Selain memiliki dimensi spiritual, Prof Arifuddin juga menilai ibadah kurban menyimpan nilai sosial yang sangat besar. Melalui pembagian daging kurban, masyarakat dapat saling berbagi tanpa melihat latar belakang ekonomi maupun status sosial.

"Karena ternyata daging kurban kan boleh dimakan siapa saja. Artinya kurban boleh bisa dihadiahkan kepada orang yang tidak miskin dan apalagi yang miskin atau berkekurangan, solidaritas dan soliditasnya itu tinggi sekali," sebutnya.

Tidak hanya itu, Prof Arifuddin mengatakan, Idul Adha dapat memberi dampak positif terhadap sektor ekonomi masyarakat, terutama bidang peternakan dan perdagangan.

"Dari sisi ekonomi kalau kemudian ibadah kurban ini seperti halnya juga ini apa namanya ibadah zakat dan zakat fitrah ini kan bisa kalau dikelola dengan baik maka sebetulnya bisa menghidupkan apa namanya ekonomi dari sektor peternakan," ujarnya.

Di sisi lain, kata dia, bahwa kurban juga memiliki pesan simbolik agar manusia mampu mengendalikan sifat-sifat buruk yang ada dalam dirinya.

"Di sisi lain sebetulnya, dari sisi manusia itu sendiri juga bisa mengambil simbol bahwa kurban dalam makna waridah mendekatkan diri kepada Allah itu menghendaki perlunya meminimalisir atau bahkan secara simbolik mengorbankan dalam tanda kutip nafsu kebinatangan manusia yang seringkali menghambat dan bahkan merusak hubungan antara satu dengan yang lainnya," jelasnya.

Menjelang Idul Adha 1447 Hijriah, ia berharap masyarakat dapat mengambil pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya, terutama tentang ketaatan dan pengorbanan dalam menegakkan nilai-nilai kebaikan.

"Pesan khusus dari drama profetik keluarga Nabi Ibrahim, pertama monitosem, apapun tantangannya, ujiannya yang kita hadapi ketika berhadapan dengan perintah Allah maka seharusnya mendahulukan perintah Allah dari pada seluruh tarikan duniawi kira-kira seperti itu," tutupnya.

Selain itu, Prof Arifuddin berharap masyarakat tidak hanya memaknai kurban dari aspek ritual semata, tetapi juga menjadikannya sebagai sarana memperkuat keimanan, keikhlasan, dan semangat pengorbanan demi kebaikan bersama.

"Dan bahkan kita rela mengorbankan apa saja itu demi untuk tegaknya sebuah kebenaran, kebaikan dan keindahan kebagusan, supaya kita bisa hidup sejahtera dunia dan akhirat. Jadi ini saya kira menjadi satu hal yang sangat mendasar untuk uji ketaatan dan kebutuhan kita terhadap perintah Allah SWT," pungkasnya.

Bagikan:
Idul Adha, Momentum Memperkuat Keikhlasan dan Solidaritas di Tengah Tantangan Ekonomi - FKUB Kota Makassar